Skanebook
Share


Sekolah Pencetak Siswa berprestasi

Mencetak dan mendidik siswa-siswa SMK mempunyai Etos kerja tinggi , Attitude, Skill dan Knowledge yang baik serta mempunyai IMTAQ

Meningkatkan Pengetahuan dan Kompetensi Siswa

Siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan keahlian Kompetensi di Sekolah.

Memahamkan Konsep / Prinsip Kerja secara luas

Siswa ditanamkan Pemahaman Konsep / Prinsip kerja terhadap Materi dengan Simulasi Online , Buku Digital dan Media Pembelajaran berbasis Multimedia.

Pembelajaran Berbasis Inovasi !

Siswa diaktifkan dalam kegiatan-kegiatan Inovasi dan R&D (Research and Development) agar dapat menimbulkan ide-ide brillian dan menumbuhkan Jiwa Riset / Penelitian kepada Siswa

Pembelajaran berbasis Multimedia

Siswa tidak hanya belajar dengan tatap muka dengan guru, tetapi dapat mempelajari materi tambahan yang sudah disediakan secara Online baik berbasis Ebook maupun berbasis Multimedia

Buku Digital Online

Dengan Buku Digital Online, siswa dapat meningkatkan kualitas ilmu dari berbagai sumber serta dapat sharing secara online.

Tim Pengembang IT SMK Negeri 2 Temanggung

Tim pengajar TKJ yang selalu berinovasi dan mengembangkan berbagai layanan dan sistem untuk meningkatkan kualitas SDM bagi Guru dan siswa SMK Negeri 2 Temanggung.

Manajemen Akses dan Layanan Online Pembelajaran dikendalikan secara Profesional

Semua layanan berbasis online sebagai penunjang sistem Pembelajaran Modern di kelola dan dikendalikan secara profesional oleh Tim IT SMK Negeri 2 Temanggung

Selasa, 08 Mei 2012

Produk Karya Siswa TKJ "WajanBolic DualStream" akan ditampilkan dalam Jambore Teknologi SMK Se-Jateng di PRPP Semarang

Pada tanggal 2 Mei 2012, Upacara Hari Pendidkan di Alon-alon Temanggung tampak berbeda karena dihadiri oleh Gubernur Jateng. Pada kesempatan itu, Kabupaten Temanggung ditetapkan sebagai Kabupaten Vokasi oleh Gubernur Jateng.
Setelah upacara selesai, gubernur Jateng meninjau langsung pameran karya inovasi SMK se-kabupaten Temanggung di Pendopo Pengayoman. Masing-masing SMK menampilkan karya-karya terbaiknya. Tak ketinggalan, SMK Negeri 2 Temanggung menampilkan karya inovasi WajanBolic DualStream yang dibuat oleh tim TKJ.
Pada saat Gubernur melihat karya yang antik itu, memberi apresiasi yang sangat baik. Mengatakan agar wajanbolic dualstream tersebut ‘dipoles’ dan disempurnakan lagi untuk bisa ditampilkan pada Jambore Teknologi SMK di PRPP Jateng pada tanggal 14-16 Mei 2012 mendatang.
Hal ini merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami khususnya keluarga besar TKJ, yang telah memberi kontribusi nyata untuk pencitraan SMK Negeri 2 Temanggung di tingkat propinsi.
Saat ini, tahap penyempurnaan dan pemolesan wajanbolic agar pada saat ditampilkan di PRPP mendapatkan apresiasi yang bagus dari pengunjung.

Rabu, 25 April 2012

Inovasi Pembuatan WajanBolic DualStream Model "SKANELIC"


Alhamdulillah...proses penyelesaian pembuatan Sistem WajanBolic DualStream sudah pada proses pengerjaan akhir. Pembuatan WajanBolic dari mulai perencanaan , Penelitian , sampai Design dan Pengerjaan sistem ini yang hanya berlangsung 3 minggu sudah masuk proyek akhir. Tahap akhir adalah proses Testing perangkat yang akan dimulai pada hari Kamis 26 April 2012 bersama Tim TI Lioncamp dan Siswa2 TKJ SMK N 2 Temanggung.

Proyek penelitian yang menelan dana sebesar 8 juta rupiah ini diharapkan dapat memberi terobosan baru dalam bidang Radio Wireless untuk mengembangkan perangkat Murah tetapi mempunyai kemampuan yang tidak kalah dengan perangkat wireless bermerek.

Sistem ini menggunakan 4 Antenna Wajanbolic Dualstream dengan teknologi 802.11n (300 Mbps) denga 1 pasang terdiri 2 Antenna. Sistem operasi menggunakan Mikrotik Routerboard. Diharapkan pada Testing akan menghasilkan Akses jaringan maksimal 200-300 Mbps Full Dupplex / 400-600 Mbps Troughput. Berikut adalah sebagian gallery proses pengerjaan Antena Wajan DualStream "SKANELIC"

Proses Pembuatan Plat Antena 5,5 Ghz



Pembuatan Pigtail dengan LMR-400 + N-Male Connector

Wajan sudah siap dimasukkan Antenna 5,5Ghz DualStream

Perakitan Mikrotik Routerboard sebagai Sistem Router.

Instalasi Antenna ke dalam Pralon PVC 3dim



Pose bersama Tim Lioncamp dan Siswa TKJ 

Diharapkan dengan adanya inovasi baru ini dapat meningkatkan pengetahuan dan Konsep Wireless kepada siswa-siswa TKJ SMK negeri 2 Temanggung.

Gallery dapat dilihat secara komplit disini



Senin, 23 April 2012

Persiapan Pentas Gebyar SMK dan Lomba festival Anak 2012

Pada tanggal 2-3 Mei 2012 di Pendopo pengayoman Kab. Temanggung akan dilaksanakan Pengukuhan Temanggung sebagai kabupaten Vokasi yang rencananya akan diresmikan oleh Bapak Gubernur Jawa Tengah disertai oleh Pameran Inovasi SMK se-Temanggung. Dalam acara pembukaan tersebut Tim Kesenian SMK Negeri 2 Temanggung yang dipimpin oleh Endah Palupi Puspita Sari, S.Sn diberi kesempatan untuk menampilkan tari Topeng Ireng modifikasi versi Temanggung yang akan diperagakan oleh siswa-siswa SMK Negeri 2 Temanggung. Antusias siswa-siswi dalam menyambut Sekolah vokasi tersebut dibuktikan dengan  latihan secara serius dan berkala di SMK negeri 2 temanggung untuk menghasilkan seni yang baik.

Hasil tari kreasi Topeng ireng ini juga akan diikutkan dalam Lomba Festival Anak Kab. Temanggung di pendopo Pengayoman dan festival Seni tingkat Provinsi Jateng di Surakarta tanggal 10-12 mei 2012. Semoga dengan latihan yang disiplin dapat memberikan hasil yang maksimal. berikut adalah gallery latihan dari siswa-siswi SMKN 2 Temanggung :












Gallery Lengkapnya bisa dilihat disini

Praktikum "Pointing Sectoral Guide Wireless" di Lereng Gunung Sumbing

Dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang Teknologi Wireless / Nirkabel maka beberapa siswa kelas 10, 11 dan 12 TKJ melaksanakan praktikum Wireless Outdoor dengan menggunakan Antenna Sectoral Guide dual polarisation.  Praktikum ini dilakukan oleh 2 Tim yang beranggotakan siswa kelas 10/11/12 TKJ pilihan. Tim pertama berada di Bukit Cinta Tlogomulyo Temanggung dengan ketinggian 1090 meter diatas permukaan laut dan Tim 2 Mobile berpindah2 tempat melakukan testing wireless.

Tim 2 melakukan pointing ke arah Tim 1 dengan menggunakan GPS sehingga bisa dipastikan arah antena dan titik koordinatnya dan melakukan pointing di 3 tempat yang berbeda yaitu di depan Kantor perikanan Temanggung , Alun-alun Kota Temanggung dan Lantai 2 Pasar Kliwon Temanggung.
Proses Perakitan Antenna Sectoral 2x2 MIMO sebagai Access Point


Perakitan Antena Grid 24dBi sebagai client

Cek perangkat dan instalasi sistem Radio

Proses Pointing di ketinggian 1090Meter dpl

Tim 1 (Access Point) sudah siap konfigurasi

Tim 2 melakukan Pointing di Depan Dinas Perikanan Temanggung

Tim 2 Melakukan Pointing di Alon-Alon Temanggung

Proses Pointing menggunakan GPS (Global Position System)

Pointing di Pasar Kliwon Temanggung

Diharapkan dengan adanya praktikum ini dapat memberi pengetahuan yang mendalam tentang konsep teknologi nirkabel dan implementasinya di berbagai medan yang dihadapi sehingga dapat menentukan sistem yang diperlukan untuk membuat jaringan komputer yang optimal. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di Gallery SMK N 2 Temanggung disini

Sabtu, 21 April 2012

Ternyata Ada Banyak Wanita Yang Lebih Hebat Dari Kartini

Selama ini kita lebih mengenal sosok Kartini dan pemikirannya yang kerap disalahartikan sebagai dasar pijakan pemikiran dan tokoh kaum feminisme. Padahal, jika melirik dari usaha, langkah, hasil, dan idealisme serta karya-karya yang diusung wanita-wanita di bawah ini, gerak lajunya telah berada jauh di depan Kartini. Hanya saja, nama-nama mereka tidak terlalu kita kenal. Kita lebih mengenal sosok Kartini yang justru menjadi terkenal karena dipromosikan oleh seorang noni Belanda.
 
Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar, seorang sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia, menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan sebagai tokoh yang lebih pantas dibandingkan seorang Kartini, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947), bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakolah Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Rohana lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon (seorang Belanda) yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar mengungkap, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untukmemperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar ini juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin JohanBerdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa.  

Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan.Safiatud-din Tajul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia”. Ia merupakan seorang sultanah / ratu yang memerintah antara tahun 1641-1675. Sebelum ia menjadi sultana, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Tsani (1637-1641). Setelah Iskandar Tsani wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Sultana Safiatuddin diangkat menjadi sultana.

Diceritakan bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita serta membantu berdirinya perpustakaan di negerinya. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita. Selama 35 tahun memerintah, Sultanah Safiatuddin juga membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan.

Selama masa pemerintahannya, ia menegakkan syariat Islam. Atas permintannya, Nuruddin ar Raniri menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, sementara Abdurrauf Singkil menulis buku berjudul Mir’at al-Thullab fî Tasyil Mawa’iz al-Badî’rifat al-Ahkâm al-Syar’iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugas pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.
Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.

Sumber : INSISTS-Republika, 9/4/2009

Jumat, 20 April 2012

UN Memotivasi Siswa Untuk Giat Belajar

Guna meningkatkan kredibilitas ujian nasional (UN), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan survei sebelum pelaksanaan UN kepada peserta. Survei ini menganalisis sejauh mana keberadaan UN dapat mendorong semangat belajar siswa. Survei dilakukan dengan metode sampling di 33 provinsi, dengan membagikan kuisioner kepada siswa.
 
Dalam kuisioner tersebut ada empat pertanyaan yang ditanyakan pada peserta. Pertanyaan pertama adalah bagaimana perasaan siswa menghadapi UN. 40,5 persen siswa menjawab biasa aja, 40,2 persen menjawab tidak biasa, dan 19,3 persen menjawab sangat tidak biasa. Pertanyaan kedua, yaitu bagaimana keyakinan siswa terhadap kelulusan UN. 25,6 persen siswa menjawab mereka tidak khawatir dan yakin lulus. Sementara 37,2 persen menjawab khawatir, dan 37,2 persen lainnya menjawab sangat khawatir.
Pertanyaan ketiga dan keempat memiliki korelasi yang kuat, yaitu bagaimana tingkat kecemasan siswa menghadapi UN dan apa pendapat mereka tentang UN. Dan dari jawaban mereka diperoleh persentase bahwa 56 persen siswa cemas dalam mengahadapi UN dan 79,1 persen siswa terdorong belajarnya karena UN. “Itu semangat positif, bahwa UN mendorong siswa kita untuk belajar,” kata Menteri Nuh kepada media di gedung Kemdikbud, Jumat (20/04).
Kecemasan merupakan kondisi mental individu yang terjadi karena adanya tantangan, tekanan, dan tuntutan untuk mencapai tujuan tertentu. Menteri Nuh mengatakan, wajar kalau ada kekhawatiran dan kecemasan bagi orang yang akan menjalani ujian. “Yang penting, kecemasan mereka mendorong mereka untuk giat belajar,” tutur Menteri Nuh
Dari grafik yang dipaparkan Menteri Nuh, diketahui bahwa 79,1 persen siswa merasa UN mendorong mereka untuk belajar. Dan 20,9 persen lainnya merasa UN tidak memiliki efek pendorong bagi mereka untuk belajar. Menteri Nuh menilai, bagi siswa yang merasa UN tidak mendorong mereka belajar adalah karena mereka telah benar-benar siap sebelum UN.

Sumber : http://kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/271

Rabu, 18 April 2012

Praktikum Jaringan Wireless Kelas 12TKJ setelah Ujian Nasional


Mungkin ini hal yang tidak biasa, karena pada umumnya siswa kelas 12 yang sudah selesai menempuh Ujian Nasional akan merasa bebas dan tidak mempunyai beban , serta merasa sudah cukup ilmu yang didapat di Sekolah. Hal ini tidak terjadi bagi beberapa Siswa TKJ kelas 12 dimana mereka justru akan belajar lagi beberapa ilmu yang mungkin nanti digunakan didunia kerja. Antusias dari siswa ini yang patut dijadikan contoh siswa lainnya karena walaupun sudah purna sebagai Siswa SMK tetapi Ilmu tetap harus dikejar dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun. Siswa kelas 12TKJ ini akan melakukan latihan dan memantabkan kompetensi selama beberapa minggu ini sambil menunggu pengumuman Kelulusan Ujian Nasional. 


Kesadaran inilah yang patut dihargai, sehingga Jurusan TKJ akan memfasilitasi keinginan siswa ini secara penuh dengan harapan modal teori dan praktek bisa diaplikasikan di dunia Kerja secara Profesional. Dari jurusan akan support penuh untuk membantu kreativitas siswa ini. Disamping itu, Guru dan beberapa siswa sedang menyelesaikan Proyek WajanBolic DualStream yang akan dipamerkan pada Pameran Inovasi SMK tanggal 2-3 mei 2012 di pendopo pengayoman temanggung.

Semoga dengan kesungguhan para siswa ini yang mau meluangkan waktu dan pikiran untuk belajar , akan mendapat hasil yang Optimal nanti di dunia Kerja.

Berikut adalah sebagian kegiatan kelas 12TKJ setelah ujian ada disini


Departemen TI OSIS
SMKN 2 Temanggung